Selasa, 16 Juli 2019

Cerita Pendakian Menikmati Indahnya Golden Sunrise di Gunung Pakuwaja Wonosobo

Halo sahabat IndonesiaKuIndah, kembali dengan saya yang pada artikel kali ini akan kembali membahas keindahan alam yang ada di bumi kita tercinta Indonesia. Pada kesempatan kali ini saya akan bercerita mengenai cerita pendakian saya bersama teman-teman asrama saya dulu ke gunung Pakuwaja. Gunung Pakuwaja ini sendiri berlokasi di sekitaran daerah dataran tinggi Dieng atau tepatnya di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah dan gunung ini memiliki ketinggian sekitar 2395 mdpl.

batu di kawah pakuwaja
Kondisi Kawah Pakuwaja dengan Batu yang Menyerupai Paku
( sumber : olipeoile.wordpress.com )

Konon menurut salah satu guide pendakian saya waktu itu, Gunung Pakuwaja kenapa bisa diberi nama “ Pakuwaja” karena diambil dari kata “waja” yang berarti wajan atau lengkungan dan “paku” yang berarti paku sungguhan. Menurut mitos pada jaman dahulu para dewa-dewa menancapkan batu yang bentuknya menyerupai paku meruncing di tengah-tengah kawah Gunung Pakuwaja ini supaya atau untuk membuat pulau Jawa tetap seimbang dan tidak bergetar lagi. Ternyata setelah sesampainya di puncak kita memang dapat melihat benar keberadaan batu yang diceritakan tersebut, tetapi letaknya saja yang tidak persis di tengah kawah gunung dan juga bentuknya lebih tepat seperti persegi panjang, bukan berbentuk paku.

batu meyerupai paku di kawah pakuwaja
Penampakan Batu Menyerupai Paku di Kawah Pakuwaja



Untuk sekedar info, Gunung Pakuwaja termasuk gunung yang sudah tidak aktif lagi dan kawahnya sekarang sudah ditumbuhi banyak tetumbuhan dan lebih terlihat seperti padang rumput yang luas berbentuk cekungan jadi sangat aman untuk pendakian. Begitu, sedikit penjelasan pembuka yang dapat saya paparkan, sekarang kita masuk ke pengalaman saya saat pendakian di Gunung Pakuwaja.

Saat melakukan pendakian kala itu tepatnya di Tahun 2014/2015 saya masih berumur 14 tahun atau di bangku kelas 2 SMP. Jadi dulu selama 3 tahun SMP saya menghabiskannya dengan bersekolah asrama di kota Purworejo. Pada saat itu pamong asrama / pembimbing asrama saya merencanakan kegiatan tahunan yang sebelumnya belum pernah dilakukan. Kegiatan tersebut adalah pendakian gunung, jujur pada saat itu saya belum pernah sama sekali merasakan yang namanya pendakian gunung. Saat diberi tahu soal rencana pendakian gunung tersebut seminggu sebelum pendakian, yang ada dipikiran saya adalah pendakian gunung akan sangat menyeramkan karena kita akan melewati hutan-hutan rimba, menyebrangi sungai. dan segala hal seram lainnya yang sering kita tonton di film-film horror yang berlokasi di hutan.

Akhirnya demi mempersiapkan fisik kami agar kuat dan tidak mudah pingsan sejak seminggu sebelum tanggal pendakian pamong asrama kami selalu membangunkan kami lebih pagi untuk jogging pagi beberapa putaran sebelum berangkat gereja, sebenarnya bukan pagi lebih tepatnya subuh karena kami dibangunkan jam 4 pagi dan disuruh lari sambil ngantuk-ngantukan haduh sungguh menyiksa kala itu, tapi itulah yang membuat berkesan ketika diingat saat ini, hehehe.

Setelah serangkaian persiapan yang membuat jam tidur kami berkurang, tibalah hari dimana kami akan berangkat. Pada saat itu karena waktu libur yang mepet akhirnya pamong asrama kami memilih untuk menggunakan hari weekend saja untuk pendakian kali ini, dengan rencana sabtu siang pulang sekolah langsung berangkat, sore pendakian mendapat sunset, pagi hari esoknya setelah sunrise langsung turun dan kembali ke asrama. Tetapi segala rencana yang sudah disiapkan matang tersebut berubah karena berbagai kendala, namanya juga kehendak Tuhan, mau dipersiapkan sematang apapun rencana kalau Tuhan berkehendak lain apa boleh buat kita tidak bisa melawan.


pendakian gunung pakuwaja
Kelompok Pendakian Anak Asrama di Gunung Pakuwaja
Perjalanan kami tempuh Purworejo – Wonosobo sekitar 3 jam menggunakan bis yang seadanya dengan AC alami karena kondisi disana juga masih sangat sejuk dan adem. Sesampai di lokasi basecamp pendakian yaitu di desa Sembungan yang mana merupakan desa tertinggi di pulau jawa dengan ketinggian 2.300 mdpl, kami semua disambut dengan para warga lokal yang sangat ramah. Pendakian pun dimulai sekitar pukul 18.30 WIB dan itupun semua diluar rencana awal yang harusnya kami bisa mendapat sunset. Pendakian dimulai dengan melintasi tangga yang dikanan-kirinya terdapat banyak rumah penduduk, kemudian semakin ke atas pemandangan samping kanan – kiri mulai berubah menjadi ladang kentang atau sayur-sayuran milik para warga desa sekitar. Pendakian kala itu dibagi menjadi beberapa kelompok karena jumlah anak asrama kala itu cukup banyak, dengan anggota tiap kelompok terdiri dari 5-7 orang dan diisi dengan salah satu guide yang sudah tahu persis jalan pendakian di gunung tersebut. Perjalanan tiap kelompok pun diberi sela waktu 5 menit agar tidak terjadi antrian atau terlalu ramai ketika di jalan.

Sambil di perjalanan guide kelompok saya waktu itu bercerita bahwa di sekitaran kawah nanti masih banyak hewan liar seperti Babi Hutan dan lainnya jadi harus berhati-hati saat ingin buang air di semak-semak. Selain itu, guide saya juga bercerita bahwa Gunung Pakuwaja sering digunakan sebagai sarana persugihan yang mana banyak orang naik ke puncak gunung hanya untuk mencari jalan pintas untuk mencapai kesuksesan duniawi, waduh jangan ditiru ya yang ini. Tetapi memang benar kami sering menjumpai beberapa sesajen di dekat semak-semak atau pepohonan.

Setelah perjalanan dari basecamp yang memakan waktu hampir 90 menit kamipun hampir tiba di puncak. Tetapi ketika hampir mencapai puncak, jalan yang akan kita lewati malah menjadi semakin sempit dan jika tidak berhati-hati kita bisa tergelincir, pada saat itu karena malam hari saya tidak bisa melihat persis kondisi di samping jalan sempit tersebut. Tetapi ketika keesokan harinya saya melihat bahwa kanan - kiri jalan sempit tersebut merupakan jurang ataupun miringan curam yang jika jatuh sudah dipastikan kita tidak akan selamat, untungnya sih saya gak tergelincir waktu itu hehehe.


telaga cebong dari pakuwaja
Keindahan Telaga Cebong dari Ketinggian



Sesampai di puncak kami sudah disambut dengan keramahan para pendaki lainnya yang sudah terlebih dahulu sampai dan mendirikan tenda. Kamipun para pendaki baru yang daritadi sudah kedinginan langsung ikut nimbrung ke api unggun yang dibuat oleh para pendaki lain tersebut tanpa menghiraukan para guide kami yang sibuk mendirikan tenda hehehe, maafin kami ya mas-mas guide.


Setelah semua tenda berdiri kamipun dikumpulkan untuk dibagi tugas memasak makan malam dan juga mencari kayu bakar. Karena saya takut turun kebawah lagi karena jalannya sangat curam, jadi saya memilih jalan aman dengan tugas memasak makanan saja. Karena pertama kali melakukan pendakian saya sempat kaget karena ternyata ada kompor portable dan juga gas yang ukurannya lebih kecil dan berbentuk seperti pilox. Dulu yang ada dipikiran saya bahwa ketika kita di gunung maka kita akan memasak menggunakan api unggun langsung, tapi ternyata tidak hehehe. Sesudah semua makanan siap dan api unggun sudah dinyalakan kamipun bersiap untuk menyantap makanan malam itu, tetapi guide kami kembali berpesan bahwa harus segera menghabiskan makanan yang sudah ada, kami pada saat itu kalau tidak salah membuat indomie dan juga membawa nasi ayam dari bawah, tujuannya agar makanan tidak segera dingin, karena ketika di puncak gunung makanan panas sekalipun akan cepat menjadi dingin ketika tidak cepat dihabiskan. Saya yang pada itu sekali lagi baru pertama mendaki gunung, dibuat heran ketika mendapati ayam yang saya bawa dari bawah tadi sudah membeku dan ketika saya gigit sudah sangat keras dan kenimaktannya pun menjadi berkurang hehehe.

Setelah acara santap malam selesai kamipun menyanyi bersama-sama di depan api unggun. Sesudah itu kami disuruh untuk tidur masuk ke tenda masing-masing dengan jumlah per tenda diisi 4 orang. Teman-teman tenda saya waktu itu mengkhawatirkan saya karena dulu ketika di asrama saya sering kali mengigau hingga berjalan keluar kamar ketika asrama, maka mereka selalu was-was ketika saya tiba-tiba keluar tenda padahal waktu itu saya keluar karena sudah kebelet buang air kecil, dasar emang kelebihan pedulinya. Ketika tidur di dalam tenda kami juga menggunakan sleeping bag yang mana fungsinya untuk menghangatkan diri kita dari terpaan hawa dingin, tetapi karena pada saat itu kita kekurarangan sleeping bag jadinya kita buka dan kita gunakan sleeping bag tersebut sebagai selimut yang mana tidak sebagaimana mestinya hehehe.

Keesokan pagi ketika waktu menunjukan pukul 04.30 WIB kami sudah dibangunkan, kalau begini namanya sama aja dong tidak di asrama, tidak sedang jalan-jalan harus bangun jam segitu. Ternyata kami dibangunkan untuk mempersiapkan untuk melihat Golden Sunrise yang ternyata memang menjadi daya tarik orang untuk kesini. Jadi walaupun udara lagi dingin-dinginnya dan juga masih ngantuk banget akhirnya saya paksakan mata untuk melek demi melihat sunrise yang katanya terbaik di Asia Tenggara. Akhirnya mendekati jam 05.30 WIB atau lebih, mulailah langit yang semula berwarna hitam penuh bintang-bintang. Oh ya ketika itu saya dan teman-teman dapat menikmati pemandangan indahnya Galaksi Bima Sakti dengan berbagi bentuk rasi bintangnya, bahkan saya sempat melihat seperti komet atau bintang jatuh yang mana pemandangan itu sangat jarang kita temukan di wilayah perkotaan yang sudah penuh akan polusi. Lanjut, akhirnya langit pun berubah warna menjadi oren-oren, kuning pokoknya indah deh dengan dibalut hamparan lautan awan, sungguh pemandangan yang indah. Akhirnya saya tahu kenapa disebut Golden Sunrise karena memang mataharinya berwarna emas terang dan juga sangat besar. Tanpa mau menyiakan momen ini akhirnya kamipun berswafoto secara bergantian dengan pose menyesuaikan sunrise tersebut.


golden sunrise dieng wonosobo
Golden Sunrise Gunung Pakuwaja

Setelah hari mulai terang, kamipun segera membereskan tenda, kali ini kami ikut membantu karena merasa ga enakan masa guide terus yang harus kerja. Sebelum benar-benar turun kamipun mengadakan acara doa yang mana pada hari itu bertepatan dengan tanggal 27 September adalah perayaan Santo Vincentius de Paulo yang juga salah satu pelindung sekolah kami. Akhirnya kamipun turun dengan berhati-hati karena ternyata perjalanan turun harus lebih berhati-hati lagi selain jalan yang menurun dan juga curam, kali ini pemandangan kanan-kiri yang semalam hanya terlihat gelap saja menjadi kelihatan dan ternyata itu adalah jurang yang curam sekali.

Sesampainya di basecamp kami langsung sarapan di salah satu warung milik warga disana karena memang kami belum sempat sarapan saat di atas tadi. Sesudah perut terisi kamipun kembali pulang dengan menggunakan bis kemarin, dan jujur selama di bis kami hanya tertidur pulas karena kelelahan dan ketika bangun kami kaget karena sudah sampai di asrama lagi dan harus menjalani rutinitas yang sangat membosankan hehehe. Terima Kasih Gunung Pakuwaja, Terima Kasih Para Pembaca Sudah Meluangkan Waktu Untuk Membaca

Tidak ada komentar:

Posting Komentar